enterpreneur

The Shahdan, Butik Berkelas `Lapak`nya Belasan Desainer

Fuad Rohimi | Selasa, 22 Agustus 2017 13:21 WIB | PRINT BERITA

ist

 

JAKARTA, WB  - Jika seorang perancang busana alias desainer memiliki butik, itu sudah biasa. Tapi jika belasan desainer menjual produknya secara retail di sebuah butik, mungkin hanya ada di The Shahdan.

 

The Shahdan lahir dari ide cemerlang Irwansyah, desainer muda jebolan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Irwan, demikian dia biasa disapa menyediakan The Shahdan, butiknya di lantai tiga FX Sudirman menjadi etalase karya 17 desainer ternama, salah satunya Chintami Atmanegara.

 

Koleksi The Shahdan memang didominasi busana muslim, namun banyak juga varian modest dari desainer Yoyo Prasetyo dan lainnya. Irwansyah sengaja memilih FX Sudirman dengan alasan busana koleksi The Shahdan memang membidik pasar kelas menengah atas.

 

Sebagian member The Shahdan. /mm

“Semua orang tahu dimana mencari busana muslim di Jakarta, kalau tidak ke Thamrin City, ya pasti ke Tanah Abang. Namun, koleksi kami memang untuk kalangan menengah atas,” jelas Irwan yang sempat tamat jurusan Bisnis Marketing, tapi betah menjadi seorang perancang busana.

 

Irwan tidak merasa mensia-siakan kuliahnya. Sebab, dengan mengelola The Shahdan dia masih bisa menerapkan ilmu yang diserapnya dari kampus. “Sekarang saya sedang mengelola bisnis penjualan busana yang butuh cara marketing yang baik,” alasannya.

 

The Shahdan yang baru genap 8 bulan dibuka kini sudah memiliki banyak pelanggan tetap. Bahkan butik yang menyasar segmen wanita berusia diatas 40 tahun sudah dikenal banyak pelancong dari negeri jiran Malaysia, Singapura, Brunei bahkan Thailand hingga China.

 

“Dari pengakuan pelanggan saya dari luar Indonesia, mereka mengakui untuk urusan busana muslim, Indonesia menjadi trendsetter, terutama di kawasan Asia. Pelanggan saya yang kebetulan warga muslim di China rela jauh-jauh datang hanya untuk membeli busana muslim di sini,” jelas Irwansyah.

 

Bahkan ada seorang temannya sesama desainer dari Thailand sengaja berlama-lama tinggal di Jakarta hanya untuk mengetahui apa yang membuat kondisi bisnis fashion, terutama busana muslim di Indonesia semakin baik sementara secara global bisnis fashion sedang lesu.

 

Menurut Irwansyah, banyaknya pengguna busana muslim dan bervariasinya busana muslim di pasaran membuat bisnis ini terus menggeliat. “Contohnya di The Shahdan yang memiliki belasan desainer dari beragam background, ada busana muslim, casual, etnik bahkan wedding,” ungkap Irwansyah.

 

 Dinie Katumbiri, Irwansyah dan Novita Sari. /mm

Layanan On Line

Irwan menyadari, pesatnya perkembangan teknologi informasi secara otomatis berimbas langsung dalam dunia bisnis. Segala sesuatu menjadi instan, konsumen semakin dimanjakan dengan adanya on line shop.

 

Menurut Irwan, untuk bisnis fashion di segmen tertentu cara belanja on line sudah menggerus banyak toko yang masih berkutat dengan penjualan off line. Namun untuk produk limited edition seperti busana, cara off line masih lebih afdol.

 

“Biasanya konsumen akan lihat-lihat dulu, jika perlu ingin bertemu dengan perancangnya. Nah, kalau dengan cara on line kan tidak bisa dilakukan,” jelas Irwansyah yang rancangannya spesialis busana muslim pria ini.

 

Meskipun masih tetap mengandalkan cara penjualan off line, namun The Shahdan juga tetap mengikuti trend. “Dalam waktu dekat kami akan merilis website dan sudah bisa melayani penjualan on line,” papar Irwansyah saat ditemui di Cafe Butik De Kuchen milik desainer Dinie Katumbiri di Jalan Kemang Selatan 14 B, Jakarta Selatan.

 

Chintami Atmanegara, Dinie Katumbiri, Novita Sari dan sederet nama lain merupakan  desainer yang lebih fokus memproduksi busana muslim. Meskipun masing-masing sudah memiliki butik sendiri, namun mereka merasa nyaman mengisi etalase di The Shahdan.

 

Butik Roemah Katumbiri milik Dinie di lantai dua Cafe Butik De Kuchen tidak pernah sepi pengunjung, namun Dinie kerap memajang karya terbarunya di The Shahdan. “Sudah menjadi kewajiban `member` The Shahdan untuk mengganti koleksi yang lama dengan yang baru. Dengan demikian selalu ada penyegaran dan pilihan baru bagi konsumen,” ujar Dinie yang juga aktif mengakampanyekan Diet Keto untuk kesehatan.

 

Begitu juga dengan Novita Sari yang pernah ikut fashion show di Turino, Italia, dirinya merasa omzet penjualannya meningkat setelah bergabung dengan The Shahdan. Novita Sari yang gemar menggunakan renda di rancangannya mengakui banyak sisi positif setelah `merger` di The Shahdan.

 

“Selain urusan jualan, kita juga sering bertemu untuk saling sharing pengalaman. Dengan demikian wawasan dan pengetahuan kita tentang mode semakin luas,” ungkap Novita Sari yang lebih memilih jadi perancang busana ketimbang mempraktekan keahlian sebagai dokter gigi ini.

 

 

Gelar Fashion Show

Irwan yang juga sebagai Sales Committee di Indonesia Fashion Week berencana akan menggelar event fashion show secara reguler di FX Sudirman.  Ide besar ini diilhami dari beberapa kegiatan serupa di beberapa butik dan pusat perbelanjaan di Jakarta.

 

“Saya melihat di sebuah mall ada avent ladies day yang menjadi salah satu acara yang paling diminati. Acara itu selain bisa menjadi ajang aktualisasi para desainer, juga bisa mendongkrak jumlah pengunjung di mall itu,” jelas Irwansyah.

 

Kisah sukses acara fashion show seperti itu akan diterapkan Irwansyah di FX Sudirman. Gelaran perdana akan dilakukan di bulan Oktober tahun ini.  Pesertanya semua desainer anggota The Shahdan yang akan melibatkan model-model terkenal. “Fashion show itu akan kami lakukan setiap tiga bulan sekali. Saya yakin acara ini bisa mengundang banyak pengunjung,” harap Irwansyah.[]

 

EDITOR : Ade Donovan
Baca Juga








Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber