nasional

Pasal Penodaan Agama Dihapus, Bikin Masalah Baru

Edward WA | Jumat, 19 Mei 2017 17:25 WIB | PRINT BERITA

Ist


JAKARTA, WB - Sejumlah pihak mendesak pembatalan atau penghapusan pasal larangan penodaan agama karena dianggap menimbulkan permasalahan akibat subjektivitas penerapannya yang mengekang /melanggar kebebasana

 
Menyikapi itu, Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini, menilai desakan tersebut tidak sejalan dengan semangat penghormatan terhadap agama di Indonesia. Selain itu, Mahkamah Konstitusi telah mengukuhkan (menolak pembatalan) Pasal dalam UU 1/PNPS/1960 jo UU KUHP Pasal 156A tersebut. 

 

"Ini artinya secara konstitusional dan by the law UU larangan penodaan agama sangat penting bagi upaya penghormatan dan penjagaan semua agama yang diakui secara resmi oleh negara dari upaya penodaan atau penistaan," tandas Jazuli, belum lama ini.

 

Anggota Komisi I ini meminta pihak-pihak yang kekeuh mendesak pembatalkan larangan penodaan agama memahami bahwa UU tersebut justru dibutuhkan untuk menjaga kerukunan antar umat beragama.

 

"Justru jangan dihapus kalau kita ingin menjaga kerukunan, karena jika tidak ada pasal tersebut orang seenaknya menghina dan menista agama dan ini akan memancing disharmoni bahkan bisa menciptakan instabilitas nasional," terangnya.

 

Secara universal, lanjut Jazuli, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) telah menyebutkan bahwa hak beragama adalah hak yang paling dasar (basic human rights) dan tidak dapat dikurangi atas nama dan/atau karena alasan apapun (non derogable rights). 

 

"Dalam konteks Indonesia, negara tegas menjamin kebebasan beragama setiap warga negara. Pasal 29 Ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu," kata Jazuli.

 

Jaminan terhadap hak beragama, lanjutnya, tidak hanya berupa perlindungan atas pilihan keyakinan seseorang, tetapi juga perlindungan negara atas setiap agama dari upaya penodaan dan penistaan yang dilakukan oleh siapapun. 

 

Negara, kata Jazuli, juga mengembangkan dan mempromosikan sikap toleransi dalam menjalin hubungan antarumat beragama, mencegah berbagai tindakan yang menyulut ketersinggungan umat beragama serta tegas melarang penistaan agama atas nama apapun, termasuk kebebasan. 

 

"Untuk itu, UUD 1945 pada Pasal 28J menegaskan keharusan setiap orang menghormati hak asasi orang lain dalam rangka tertib bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pun, setiap orang dalam menjalankan kebebasannya tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta atas hak dan kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum," papar Jazuli.

 

Jazuli Juwaini justru mengajak seluruh warga bangsa untuk bersyukur bahwa negara kita memiliki pendirian dan aturan yang jelas tentang posisi agama dan ancaman terhadap perbuatan yang merusak bangunan kerukunan beragama sebagaimana tersebut di atas. 

 

"Di negara kita, tidak boleh ada sikap dan perbuatan yang menghinakan, menodai, dan menistakan agama. Tidak boleh ada sikap yang menyerang dan merusak nilai dan ajaran agama. Ketegasan sikap negara terhadap intoleransi secara konkret diwujudkan dalam beleid tentang larangan penodaan agama. Ini harus kita pertahankan," pungkas Jazuli.[]




 

EDITOR : Abdi Tri Laksono
Baca Juga








TERKINI



TERPOPULER

PKS akan Usulkan Pidana bagi Prilaku LGBT

22 Januari 2018 | 17:30 WIB

Anggota Panja RUU KUHP dari F-PKS Nasir Djamil menegaskan, jika sejak awal F-PKS DPR RI konsisten mengusulkan pemidanaan terhadap perilaku LGBT dan predator seks anak dalam RUU KUHP.

Profesi Apoteker Dilecehkan, meetdoctor.com Minta Maaf ke IAI

19 Januari 2018 | 18:22 WIB

Gegara seorang dokter melakukan pelecehan profesi apoteker melalui portal kesehatan meetdoctor.com. Pengelolanya menyambangi Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP AIA) untuk menyampaikan permohonan maaf dan klarifikasi.

Satgas Kesehatan Satgas TNI Tangani Gizi Buruk di Asmat

19 Januari 2018 | 16:35 WIB

Sekitar 2.027 warga Asmat telah mendapatkan pelayanan kesehatan dari Satgas Kesehatan TNI bekerjasama dengan Kemenkes RI dan Dinas Kesehatan Pemda setempat.

Kontes Karada Dance, Cara Jepang Perkenalkan Bahasanya

20 Januari 2018 | 20:43 WIB

Jepang sangat serius melakukan penetrasi budaya ke banyak negara. Demi memperkenalkan bahasanya, seniman kesohor Jepang Piko Taro menciptakan lagu dan tarian Karada Dance dan dilombakan di banyak negara, salah satunya Indonesia.

Menag : Fraksi Dukung LGBT Gak Masuk Diakal

23 Januari 2018 | 14:09 WIB

Terkait pernyataan ketua MPR, Zulkifli Hasan yang mengatakan ada lima fraksi DPR yang mendukung LGBT, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin tak percaya. Menurut Lukman, kemungkinan ada kesalahpahaman soal isu LGBT pada fraksi-fraksi di DPR.

Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber