lain

100 Tahun Karya Otto Djaya Dipamerkan di Galeri Nasional

Anggi SS | Sabtu, 01 Oktober 2016 06:14 WIB | PRINT BERITA

Otto Djaya

 

JAKARTA, WB - Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran lukisan `100 Tahun Otto Djaya (1916-2012)`. Ada sekitar 200 lukisan  Otto Djaya yang dibuat selama enam dekade sejarah dan periode politik di Indonesia.

 

Pameran istimewa ini diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia dengan inisiasi dari Inge-Marie Holst dan Hans Peter Holst yang melakukan penelitian terhadap sosok dan karya-karya Otto Djaya. Karya besar ini dikuratori oleh Rizki A.Zaelani dan Inge-Marie Holst.

 

 

 

"Semua lukisan menunjukkan berbagai kejadian sehari-hari yang umum dikenal masyarakat di Indonesia, seperti tema-tema tentang pasar, warung, para pedagang asong, perayaan perkawinan, pertunjukan kesenian tradisi, perjalanan dengan kendaraan bermotor, sepeda, kereta kuda, dan lain-lain," ujar Rizki.

 

Pameran yang dihelat hingga 9 Oktober 2016 ini menjadi kesempatan langka yang bermanfaat bagi publik seni rupa di Indonesia, khususnya bagi generasi muda untuk mengetahui sejarah dan tradisi lokal selama enam dekade masa pemerintahan di Indonesia yang tergambarkan melalui lukisan-lukisan Otto Djaya.

 

Pameran 100 Tahun Otto Djaya juga menyajikan buku The World of Otto Djaya (1916–2002), yang menceritakan Otto Djaya sebagai salah satu pelukis Indonesia yang karyanya dikoleksi oleh Presiden Soekarno. Otto seorang bohemian, seniman nonkonformis, yang mendefinisikan refleksi dan estetika pribadinya sendiri. Ia melukis dengan kecenderungan visual yang berbeda yang dapat dikenali untuk mengeksplorasi serta mengekspresikan jiwa rakyat Indonesia, khususnya orang Jawa.

 

 

Otto sangat analitik terhadap kemanusiaan, termasuk dirinya sendiri, dan mampu mensintesis keindahan alam, mitos, cerita rakyat, dan sindiran umum.

 

Ia salah satu master dalam sejarah seni rupa Indonesia. Ia pernah menjadi pejuang kemerdekaan di masa kolonial. Bersama saudaranya Agus Djaya, mereka pernah pergi untuk belajar dan bekerja sebagai seniman di negeri Belanda pada tahun 1947-1950 dan beberapa kali berpameran di Eropa.

 

Otto Djaya hidup dan melukis selama enam dekade sejarah dan periode politik di Indonesia, semenjak masa kolonial Belanda, masa Perang Dunia ke-2, masa revolusi, masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto, hingga masa demokrasi.

 

Lukisan-lukisan Otto Djaya pun menjelaskan antara nilai kenangan dan konteks persoalan sosial-budaya yang bersifat lokal dengan pencarian artistik yang khas untuk mencapai nilai universalitas seni yang bersifat pribadi. Tema-tema tentang pasar, warung, para pedagang asong, perayaan perkawinan, pertunjukkan kesenian tradisi, perjalanan dengan kendaraan bermotor, sepeda, kereta kuda, dll. Tentu saja, alam dan lingkungan hidup.

 

Kakak Beradik

Intensitas warna-warna dari lukisan Otto Djaya pun melampaui zamannya, seperti warna hijau dedauan yang khas dan biru langit yang cemerlang. Banyak lukisannya yang menjadi khusus juga karena ia mencampurkan atau memasukan tokoh-tokoh wayang dari keluarga Punakawan (khususnya, Petruk dan Gareng) dalam situasi hidup keseharian tersebut.

 

Memang tidak sedikit seniman Indonesia yang mengangkat tema pewayangan sebagai gagasan berkarya, namun Otto Djaya memunculkannya secara khas, spontan, serta alamiah. Selain ia juga banyak menampilkan tarian sosial dalam tradisi Indonesia dalam lukisan-lukisannya, seperti Ronggeng, Reog Ponorogo, Cap Go Meh, Kecak, juga penggambaran legenda seperti Arjuna, Jaka Tarub, dan Ramayana.

 

Otto Djaja bernama lengkap Otto Djajasuntara. Lahir di Rangkasbitung, Jawa Barat, 6 Oktober 1916. Ia merupakan adik dari pelukis Agus Djaya (1913-1994). Kedua saudara tersebut merupakan anggota Persatoean Ahli-Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1937 (Agus Djaja merupakan ketua Persagi).

 

 

Keduanya memberi pengaruh di dalam berkarya. Selama pendudukan Jepang, ia bersama kakaknya bekerja di Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso). Otto Djaja mengikuti latihan militer selama pendudukan Jepang, berkedudukan sebagai perwira Pembela Tanah Air (PETA/Cu Dancho) di Bogor. Di masa revolusi, Otto Djaja merupakan seorang tentara berpangkat mayor dalam angkatan perang Indonesia.

 

Pada 14 Januari 1978, Otto Djaja mengadakan pameran tunggal pertamanya di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Otto Djaja meninggal dunia di Jakarta, 23 Juni 2002.[]

 

 

EDITOR : Ade Donovan
Baca Juga








TERKINI



TERPOPULER

Nomor Urut Cantik Prabowo Subianto dan Partai Gerindra

22 September 2018 | 10:12 WIB

Makna konotatif dan denotatif nomer urut peserta Pilpres 2019 punya banyak varian dan biasanya akan menjadi salah satu poin utama kelucuan dan keriuhan pembelaan dari para pendukung masing-masing pasangan Pilpres 2019 di sosial media.

 

Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber